THE POWER OF LOVE

Begitu besarnya kasih sayang seorang ibu demi keluarganya. Apa pun dilakukan dengan sepenuh hati, bahkan melebihi kekuatan raganya. Sampai ada istilah “Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala.”

Tiba-tiba jadi mewek inget Mamaku…

Dengan tinggi tubuhnya yang gak lebih dari 150 cm, Mamaku pergi ke pasar sedari gelap untuk keperluan jualan gado-gado dan makanan lainnya. Tenteng, pikul, gendong, seret… begitulah Mama membawa barang belanjaannya. Naik angkot, becak, kadang ojek. Dengan jumlah total belanjaan melebihi ukuran tubuhnya.

Sakit, lelah… gak dirasa! Tutup warung jam 9 malam. Sampai rumah ngurus cucian. Hanya bisa istirahat beberapa jam, harus berjibaku kembali sebelum matahari terbit.

Badan mungilnya acap kali gemetar, saking lelahnya. Sel-sel tubuhnya meronta. Pingsan di pasar pun pernah ketika sedang hamil besar.Namun cinta mengalahkan rasa sakit itu. Tetap tegap berdiri, demi buah hati bisa mendapat kehidupan yang lebih baik.

Tak ada cuti melahirkan dalam hidupnya. Baru lewat beberapa hari mempertaruhkan nyawa saat melahirkan, Mama sudah kembali melanjutkan perjuangannya demi keluarga. Seorang ibu gak menginginkan yang terbaik bagi dirinya. Tapi yang terbaik bagi anak-anaknya adalah sebuah keharusan.

Dengan perjuangan ibu yang sebesar itu, apa pantas kini kita menyia-nyiakan hidup?

Ibu memang tidak meminta balasan. Tapi dengan menjadi manusia yang Salih/Salihah, taat kepada Tuhannya, bermanfaat untuk umat, menjaga alam semesta, pahala untuk Ibu dan Bapak akan mengalir terus, in syaa Allah…

Ayo bangkit dari rebahanmu. Waktunya kita lanjutkan perjuangan Ibu Bapak kita. Amalan kita adalah tanda bakti untuk orangtua. Bismillah… Allahuakbar!

*Mohon doa untuk Mama Papaku yang kini sedang sakit.

*Tulisan ini aku dedikasikan untuk Mama Papa. Aku siap mengabdikan diri untuk membantu para ibu menjadi kuat dan tangguh seperti Mamaku. Cinta & energimu tidak akan putus, Ma. Luv u…

CARA MEMPERTAHANKAN & MENUMBUHKAN BISNIS DI KALA PANDEMI

Banyak bisnis berguguran dihantam badai kopit. Dampaknya puluhan, ratusan, bahkan ribuan keluarga kehilangan sumber penghasilan. Berapa banyak anak yang akhirnya putus sekolah. Dampaknya jangka panjang. Bagaimana generasi Indonesia di masa depan?

Naluri Emak-emak memberontak. Gak bisa diam melihat keadaan ini. Kudu gotong royong semua anggota keluarga. Gak cuma ayah yang berjibaku, ibu dan anak ikut mikirin solusi. Dan menengadahkan tangan serta meneteskan air mata untuk tetap punya asa.

Itu satu dari banyak alasan, kenapa Mak Muri bersikukuh mengampanyekan MuslimahPreneur. Walau ada yang kontra, jadi nyuruh ibu-ibu cari nafkah. Padahal bukan fitrahnya, kata mereka.

Wahai Marimar & Rudolfo, sesungguhnya keluarga adalah Teamwork, di saat ada satu yang down, anggota lainnya menguatkan hati. Di kala yang satu tertatih, anggota lainnya menopang agar tiang rumah tangga tetap utuh.

Wahai Marimar & Rudolfo, kalian baiknya cek, angka perceraian kian tumbuh. Sebagian besar disebabkan ekonomi keluarga. Anak pun menjadi korban kekerasan rumah tangga, secara langsung maupun tidak.

Kriminalitas kelas bawah terjadi, salah satunya karena mereka lapar. Kalau kriminalitas kelas atas, itu sebab mereka serakah. Beda Marimar, rakyat hanya butuh makan, susu untuk bayi, bayar token listrik, tempat berteduh, dan biaya pendidikan agar generasi bangsa ini menjadi lebih baik.

Mari kita abaikan Marimar & Rudolfo yang suka nyinyirin Emak Olshop. Kita doain aja mereka order ke kita ya, Mak. Sekarang tugas kita adalah tutup telinga, buka mata. Kemudian cari tahu apa penyebab bisnis kita jalan di tempat.

“Penyakit yang sering kali menghinggapi orang-orang hebat dan perusahaan-perusahaan besar adalah menganggap dirinya sudah hebat dan tidak perlu melakukan perubahan atau inovasi.”

-Buku Rise Above the Crowd

Gak ada strategi bisnis yang abadi. Gak ada teknik marketing yang berjalan sepanjang waktu. Semua ada masanya akan menjadi tak relevan dengan zaman. Sepanjang bisnis berdiri, sepanjang itu kita gak boleh berhenti belajar. Belajar mencari hal baru dan belajar memperbaiki yang ada.

Minimal 5 divisi ini harus eksis dalam Olshop:

1. Produksi

2. Pemasaran

3. Penjualan

4. Keunangan

5. HRD

Jika belum punya banyak karyawan, maka beberapa divisi memang masih kita pegang. Dulu ya aku sendirian yang mengelola 5 divisi itu, Mak. Bagi yang belum paham “Cara Rekrut & Kelola Karyawan Online Shop”, tungguin akhir bulan ini ya. Aku tuangin ilmunya dalam buku biar Emak bisa pelajari kapan aja dan di mana saja.

Nah tugas kita, rekrut dan delegasikan beberapa tugas. Sehingga kita bisa punya banyak waktu dan tenaga untuk mempelajari hal baru demi melakukan perbaikan dan memunculkan inovasi. Pemilik Olshop itu, gak boleh terjebak hal teknis. Suatu saat kita harus lebih banyak mikirin taktis dan hal strategis. Biar orderan makin laris manis.

Langkahnya gini, 5 divisi itu Emak pilah mana yang paling berdampak mendatangkan cash. Serta yang sesuai dengan SDM dan kemampuan yang dimiliki.

Jika belum punya ilmu pemasaran, jangan ngurusin produksi. Nanti udah coba bikin, terus bingung jualnya di mana. Kondisi PPKM kayak gini, terlalu berisiko jika uang adanya di barang. Apalagi barang yang belum teruji laris atau nggak.

Divisi produksi, Emak jadikan tugasnya adalah sebagai buyer. Jadi riset keinginan pasar, cari supplier, kemudian mendatangkan. Nah gitu aja.

Bagi yang sudah berada di posisi produsen, namun pasar tidak meminati barang Emak saat ini, maka jangan gengsi untuk jadi Distributor/Agen/Reseller barang orang lain. Ingat, yang utama saat ini adalah CASH alias UANG TUNAI.

Ambil Jurnal (kalau belum punya, pesen aja di CS Maya wa.me/6287836552238) lalu tulis apa saja yang harus Emak lakukan dalam satu hari. Setidaknya 4 hal ini Mak lakukan setiap hari:

1. Pelajari ilmu teknis yang lebih efisien. Sehingga bisa mengurangi biaya atau mengoptimalkan hasil.

2. Mencari ilmu taktis baru.

3. Menggali strategi terupdate, bisa dari kepoin kompetitor atau baca buku terkini, misalnya buku Emak-Emak Jago Jualan #EEJJ

4. Evaluasi kinerja karyawan, mana yang harus dikurangi, ditambah, dipoles, di-update dll. Percaya deh, evaluasi setiap hari, akan membuahkan hasil jauh lebih baik.

Makanya bangun lebih pagi, stop dulu nonton drakornya, berhenti kepoin artis. Gak mudah untuk mengerjakan itu semua. Pasti tetap akan digelendotin sama anak, ya. Seperti fotoku di atas, lagi ngisi seminar di kopdar Alumni SBO, anak ikut eksis. Aku gak marah, aku gak malu. Justru itu yang disyukuri bisa kerja tapi tetap dekat sama anak.

Sebelum mereka keburu gede, udah gak mau sering main sama Emaknya, ye kan. Jadikan saja warna dalam hidup. Jadi kitanya gak BT, hati tetap ceria, otak encer, ide cespleng.

Aku doain, kita semua bisa mewujudkan tagline “Keluarga Keurus, Bisnis Jalan Terus”, aamiin…

Salam SUKSES Online Shop Indonesia

Muri Handayani

“Keluarga Keurus, Bisnis Jalan Terus”

LANGKAH SEDERHANA INI BISA MENYELAMATKAN BISNIS

Hampir tidak ada orang yang tidak terdampak oleh drama pandemi. Sekalipun sultan, bisa stres juga kelamaan di rumah, kan? Apalagi kita rakyat jelata. Keluar salah, di rumah salah. Terutama yang ikhtiarnya kudu offline.

Namun, harapan harus tetap kita genggam. Sebab Allah yang mendatangkan pandemi ini. Pasti Allah juga yang bisa membantu kita melewati pandemi ini dengan baik. Belajar dari awal pandemi, tentunya kita bisa melihat, siapa yang bisa mempertahankan bisnisnya adalah mereka yang melakukan ADAPTASI & INOVASI.

Hal itu berat dilakukan jika kita mager dan gak mau keluar dari zona nyaman. Terus mengeluarkan kalimat ini, “Dulu cara ini berhasil, dulu bisa kok gini. Dulu juga gini bisa rame penjualan.”

Hey Marimar, itu duluuuuu. Kamu mau pakai mesin waktu untuk bisa kembali ke masa lalu? Hayu atuh move on, Mak!

Aku jadi teringat ketika ikut workshop Coach Indrawan Nugroho beberapa tahun lalu, yang berjudul Rise Above the Crowd. Ada bukunya juga kalam Emak mau cari, dengan judul yang sama.

Jika bisnis kita ingin menonjol di antara kerumunan, atau minimal bertahan di masa pandemi ini, salah satu ikhtiar kita adalah melakukan INOVASI. Ada 10 tipe inovasi dalam bisnis.

1. Profit Model

Emak dapetin uang di bisnis itu dari mana saja? Bukan hanya sekadar jual produk. Jika ternyata bisa jual jasa penunjang, kemasan, after sales service, dll.

Contohnya di Informa, ketika kita beli sofa, karpet, atau springbed, Emak akan ditawarkan cairan pembersih noda, jasa pembersihan berkala, hingga asuransi produknya.

Ayo pikirkan inovasi apa yang bisa Emak munculkan di profit model dalam olshop.

2. Network

Kolaborasi dengan pihak eksternal dalam menciptakan nilai bagi pelanggan. Misalnya beli gamis, gratis kaos kaki. Nah, kaos kakinya berkolaborasi dengan merk lain. Beli tas kulit, gratis perawatan. Kolaborasi dengan penyedia jasa perawatan tas.

Atau seperti yang kami lakukan, berkolaborasi dengan Kementrian Pariwisata & Ekonomi Kreatif untuk melakukan pembinaan 200 UMKM. Walaupun ketika dalam perjalanan prosesnya butuh perjuangan keras. Lembur 32 jam nonstop untuk beresin revisi laporan. Seperti yang tampak dalam foto di atas, My Wonder Team yang tangguh. Kami foto buat kenang-kenangan perjuangan. Muka pada kucel.

Tingkatkan silaturahim, semangat berkolaborasi.

Oh iya, seperti program Pendampingan Bisnis 6 Bulan MuslimahPreneur SBO x JNE juga buah dari network dengan Kang Dewa Eka Prayoga.

3. Structure

Berinovasi pada cara mengorganisasikan dan menyelaraskan talenta dan aset. Contohnya Southwest Airlines yang hanya mengoperasikan satu jenis pesawat saja, yaitu Boeing 737, sehingga mengurangi biaya servis dan menyederhanakan operasi.

Yang kami lakukan di RAZHA, selama 10 tahun ini hanya fokus di Inner Hijab. Untuk produk Hijab dan lainnya, kolaborasi dengan brand teman. Sehingga aku gak perlu banyak orang untuk ngurus produksi dan gak perlu sedia modal untuk bahan baku produksinya. Serta yang paling penting, gak pusing ngurus produksi. Ngurus produksi pusing pemirsa.

4. Process

5. Product Performance

6. Product System

7. Service

8. Channel

9. Brand

10. Customer Engagement

Nanti kapan-kapan kita bahas sisanya, ya. Tapi gak janji, hihiiii… Lebih puas kalau Emak beli bukunya aja Rise Above the Crowd karya Indrawan Nugroho. Cari di toko buku masing-masing, ya.

Bukan sekadar INOVASI yang menghasilkan perubahan, namun harus juga ADAPTASI yang relevan dengan keadaan terkini. Inovasi yang adaptif, nah itu kuncinya.

Dari 10 poin di atas, mana dulu yang mau Emak coba? Hmmm… Apakah ada yang mau coba strategi network dengan Mak Muri? Kita kolaborasi.

Salam SUKSES Online Shop Indonesia

Muri Handayani

“Keluarga Keurus, Bisnis Jalan Terus”

CARA MEMILIKI KARYAWAN YANG BANYAK NYUMBANG IDE

Salah satu yang bikin kita baper (sebagai Emak Olshop) ketika memiliki karyawan adalah merasa percuma punya karyawan tapi kita semua yang mikir. Karyawan direkrut itu untuk membantu membesarkan olshop kita, ye kan, Mak? Tapi kenapa semua ide, kreativitas, dan konsep masih dari kita semua. Mereka seakan gak mikirin.

Jadi hal ini disebabkan:

1. salah karyawan,

2. salah cara pengelolaan karyawan, atau

3. kita yang salah rekrut karyawan.

Paling enak memang nyalahin orang lain. Salah dia, salah mereka, bukan salah saya.

Namun jika kita berpikir seperti itu, dijamin hidup kita gak akan bisa bertumbuh menjadi lebih baik. Karena yang bertumbuh adalah orang lain yang kita salahkan/kritik. Kita gak mengevaluasi diri sendiri. Ya gak akan ada perbaikan dalam diri kita.

Gak ada perbaikan dalam diri, gak ada perbaikan nasib hidup. Akan gini-gini aja atau bahkan malah semakin terpuruk. Berdasarkan pengalamanku ketika mem-PHK semua karyawan pada tahun 2013, pangkal masalahnya adalah poin 3 ternyata, Mak. Aku salah rekrut karyawan.

Karyawan yang diterima tidak sesuai dengan kompetensi, gak tersaring secara karakter diri, berbeda dari yang dibutuhkan. Emak jangan ulangi kesalahan aku, ya. Makanya kalau mau rekrut karyawan harus ada persiapan dulu.

Gimana persiapannya?

Tenang, aku tuangin semua dalam buku “Cara Rekrut & Kelola Karyawan Online Shop” yang in syaa Allah launching akhir bulan Juli ini, ya. Minta doanya.

Sebagus-bagusnya karyawan yang diterima, kalau kita gak kelola dengan baik, kurang optimal hasilnya. Ada gak yang ngalamin “disetir karyawan”?

Kok jadi karyawan yang ngatur saya? Gak nurut dengan apa yang saya perintahkan. Ngerjain kerjaan suka-suka dia. Peraturan kantor gak ada yang peduli. Berasa direndahkan, gak dihargai. Lah, padahal kita yang bayar gajinya.

Hal itu disebabkan oleh poin 2, Mak. Salah cara kelola karyawannya. Ya wajar, kita belum pengalaman. Gak punya ilmunya. Dulu aku juga gitu kok. Alhamdulilah sekarang jauh lebih baik. Mereka gercep melakukan apa yang aku tugaskan. Nanti Emak juga akan belajar hal itu dalam buku yang akan Emak dapatkan di akhir bulan ini.

Lalu yang gak kalah penting, gimana cara agar karyawan BANTU MIKIR. Bukan cuma bantu tenaga aja. Apalagi di kondisi pandemi kayak sekarang, banyak bisnis berguguran. Bisa bertahan saja sudah bagus ya, Mak. Walau di luar sana banyak juga yang omzetnya meningkat drastis. Kok bisa?

Mereka yang omzetnya naik, perhatikan deh. Mereka adalah sekumpulan orang yang memiliki pola pikir kritis. Mampu berpikir kritis itu menjadi skill yang penting banget. Makin ke sini, makin penting. Banget…nget…nget!

Dari buku Belajar Cara Belajar, ada 3 langkah belajar menggunakan Berpikir Kritis.

1. Bangun fondasi pengetahuan.

Sebelum mulai mencari informasi dari luar (pelatihan, les atau komunitas), coba perkuat sumber informasi sendiri (melalui jurnal, buku atau artikel).

Itulah sebabnya di tempat kami, karyawan Mak Muri diwajibkan baca buku. Buku kami sediakan. Mereka akan direkomendasikan atau pilih sendiri yang temanya sesuai dengan kebutuhan pekerjaan mereka, baik untuk menunjang soft skill maupun hard skill. Terkadang kami juga referensikan video atau jurnal untuk mereka pelajari. Baca/mempelajarinya di rumah.

2. Biasakan diri untuk berani bertanya.

Bertanya membantu memperdalam pemahaman sekaligus memeriksa kebenaran pengetahuan yang diperoleh dari langkah 1.

Mengapresiasi orang yang bertanya dan gak mencemooh apa pun pertanyaan mereka, menjadi budaya di kantor Mak Muri. Kami senang dengan yang rajin bertanya. Justru yang diam, akan kami paksa untuk bertanya. Ini proses untuk pembiasaan dan menghancurkan mentalblock takut bertanya.

3. Sering-sering berdiskusi.

Melalui diskusi, kita bisa mendapatkan informasi lebih dari yang diperoleh dari langkah 1 dan langkah 2.

Minimal ada 1 kali diskusi setiap hari (yes, setiap hari loh, Mak). Saat kami briefing pagi. Bisa jadi 2-3 kali ketika memang sedang genting. Duh buang-buang waktu gak sih? Tergantung sudut pandang dan cara berdiskusinya.

Kami memahami karyawan butuh dibimbing dan dipancing untuk mengeluarkan berbagai ide kreatif dan potensi diri yang masih terpendam.

Saya sering kali menasihati mereka dengan analogi teko. Teko jika isinya air putih, maka akan keluar air putih. Apabila isinya madu, maka madulah yang keluar. Ketika kosong maka tidak ada apa pun yang bisa dikeluarkan.

Itulah otak kita. Kalau gak ditambah ilmu, wawasan, pengalaman, gak akan ada ide, strategi dan kreativitas yang bisa dihasilkan

Jadi, Emak sudah membantu karyawan menambah kapasitas ilmu, wawasan, dan pengalaman mereka? Jika tidak, maka sekaranglah saatnya. Jangan menunda lagi, ya!

Dulu, saat semua baik-baik saja tanpa pandemi seperti sekarang, kami asyik bisa belajar bareng seperti foto di atas. Pukul 18.15 – 19.30 di foto di atas kami mengupgrade skill para tim content creator mengenai ilmu desain grafis.

Lalu gimana jika sudah diajari kemudian mereka resign?

Alhamdulillah kita akan kebanjiran amal jariah loh, Mak. Setiap ilmu yang kita fasilitasi, mereka gunakan di tempat lain. In syaa Allah pahalanya mengalir untuk Emak. Keberkahan ada dalam hidup Emak. Kemudahan pun berdatangan dalam setiap urusan Emak, aamiin…

Yuk semangat tanam benih dan merawatnya supaya bisa panen lebat. Aku doakan Mak dimampukan buka lapangan kerja yang banyak aamiin

Salam SUKSES Online Shop Indonesia

Muri Handayani

“Keluarga Keurus, Bisnis Jalan Terus”

TERLALU FOKUS DENGAN TUJUAN UTAMA, BIKIN FRUSTRASI

Kok bisa?

Pada tulisan saya sebelumnya memang mengajak Emak untuk memiliki tujuan hidup. Namun, kita juga harus memahami sistem agar tujuan utama tercapai dengan tanpa stres tinggi. Realistis kan ya, mau pencapaian tinggi dan cepat (sifat dasar manusia maunya cepet-cepet), tingkat stres yang ditimbulkan juga tinggi.

Maka solusinya bagaimana Mak Muri?

Boleh fokus pada tujuan, tapi kita harus punya perencanaan untuk memotong-motong tujuan besar itu menjadi bagian-bagian kecil. Kayak kita makan Mak, kan gak langsung sepiring masuk mulut, ya. Sesendok-sesendok dan jangan langsung telen, kunyah dulu yang bener. Makan terburu-buru bisa menyebabkan tersedak yang berakibat cedera ringan hingga fatal.

Tujuan: punya rumah tunai 1 Miliar.

Jika kita saat ini memiliki omzet olshop 10 juta sebulan, ngelihat tujuan/impian punya rumah cash sebesar itu, rasanya pesimis gak, sih? Malah jadi down.

Nah, solusinya… inget, potong-potong jadi kecil.

Satu Miliar dibagi menjadi 3 tahun. Maka setiap tahun harus nabung 334 juta. Dibagi 12 bulan untuk menemukan target bulanan, ketemu angka 28 juta. Potong lagi menjadi tabungan harian. Kalau kamu kerja 22 hari sebulan (Senin-Jumat). Dapet angka 1.263.000 yang harus ditabung. Kalau nilai segitu adalah tabungan, tentu juga harus ada alokasi dana biaya operasional, kebutuhan harian, profit perusahaan, dll.

So, hitung serealistis mungkin! Jangan halu.

Misalnya total jadi 4 juta margin yang harus didapat setiap hari. Lalu jabarkan harus berapa produk terjual, berapa jumlah chat masuk, berapa jangkauan iklan, berapa karyawan yang diperlukan.

Selanjutnya, mulailah membuat target-target kecil sebagai rangkaian pencapaian untuk mewujudkan tujuan utama. Dan selebrasikan setiap goal yang didapat. Seperti yang sedang dikejar timku saat ini, membuat 100 grup WA x 250 member. Ini sebuah pencapaian yang harus diapresiasi.

Kemudian tahap selanjutnya apa?

Step by step seperti itu bisa meredakan tingkat stres. Karena ada kebahagiaan kecil setiap waktu. Dibanding kita hanya terlalu fokus pada tujuan utama. Berasa kok gak sampai-sampai. Takutnya membuat kita jadi kufur nikmat. Sebab Allah sudah kasih banyak, tapi kita gak bersyukur. Hanya sibuk melihat yang belum dicapai.

Yuk siapkan alat tulis, tentukan tujuan utama, lalu potong-potong (bayangin aja kayak lagi motong terong, Mak), buat perencanaan realistis.

In syaa Allah dengan begini, kita paham apa yang harus dilakukan, mana yang mesti didelegasikan kepada karyawan, butuh berapa karyawan dan skillnya apa aja, dll. Hidup terasa lebih terarah, Mak.

Karena aku punya impian yang gede, dengan rangkaian perencanaan yang super banyak, itulah sebabnya karyawanku juga banyak. Aku realistis, gak mungkin semua jobdesc itu dikerjakan dengan dua tanganku aja.

Inget, REALISTIS!

Jika belum paham cara kelola karyawan banyak, ya mulai cari ilmunya, latihan interview, nyobain punya karyawan 1 orang. Belajar komunikasi mendelegasikan tugasnya. Konsisten evaluasi kinerja mereka, dll.

Plis jangan NATO (No Action, Talk Only)

Gak paham Mak Muri cara nentuin gaji, bonus, pembagian jobdes, dll.

Tenang, aku sudah siapin buku panduannya. “Cara Rekrut & Kelola Karyawan Online Shop”.

Ini foto jadul, sekarang WFH. Jadi kangen suasana rame-rame gini. Mereka lebih seneng lesehan, padahal udah dibeliin meja kursi banyak, untung bisa dilipet.

Aku doain Emak juga dimampukan Allah buka lapangan kerja yang banyak, jauh lebih banyak dari yang aku bisa, aamiin…

Salam SUKSES Online Shop Indonesia

Muri Handayani

“Keluarga Keurus, Bisnis Jalan Terus”

IKIGAI SOLUSI BIAR GAK LEMES JALANIN OLSHOP WALAU NAIK TURUN

Apa alasan Emak jalanin olshop?

– Iseng aja, buat ngisi waktu.

– Bantu ekonomi keluarga.

– Seneng jualan, hobi.

Percayalah, jika jawaban kita berbeda, maka hasil yang kita dapat dari olshop juga akan berbeda. Ketika alasan tidak cukup kuat, maka saat ada tantangan di depan mata, kita gampang lemes dan akhirnya menyerah.

Emak harus punya TUJUAN yang kokoh supaya gak gampang goyah walau badai mewarnai perjalanan olshop kita. Orang yang tangguh adalah orang yang terdampak hasil terpaan, bukan yang rebahan. Iya kan?

“Tanpa adanya tujuan, orang akan lebih mudah merasa bosan bahkan gampang panik dan mengalami depresi.” (Steve Taylor, Psikolog)

Punya tujuan dapat membuat hidup lebih bahagia, pikiran semakin positif dan fokus saat bekerja maupun belajar.

Orang Jepang mengenal suatu konsep mencari tujuan hidup yang bernama IKIGAI. Empat aspek dalam IKIGAI:

1. Love: apa yang kita suka (hobi atau minat).

2. Good at: apa yang kita bisa (bakat).

3. Needs: apa yang kita butuhkan.

4. Paid for: apakah kita bisa mendapat imbalan.

Love + good at = passion

Love + needs = mission

Needs + Paid for = vocation

Paid for + good at = profession

Love + Good at + Needs + Paid for = IKIGAI

Contoh musisi yang pandai main gitar.

Love: Suka musik

Good at: Jago Gitar

Needs: Menghibur banyak orang

Paid for: Jadi musisi

(Sumber: Buku Belajar Cara Belajar)

Sekarang tinggal Emak jabarkan untuk menemukan IKIGAI Emak apa. Kalau Mak Muri seperti ini:

Love: Membuat orang pinter & bertumbuh

Good at: Marketing

Needs: Berbagi kepada banyak orang

Paid for: Emak Olshop, Penulis, Pengajar

Tujuan hidup harus punya skala, angka, nilai, kapasitas. Sebesar apa yang ingin Emak raih. Saat ini program Pendampingan Bisnis 6 Bulan MuslimahPreneur SBO x JNE, sudah berjalan 1.000 peserta yang lolos. Lalu kami memberanikan diri buka batch 2 untuk memberi kesempatan kepada 1.000 orang lagi.

Beberapa hari lalu, guru saya Coach Imam Muhajirin Elfahmi chat mengenai program ini, bahagianya di chat guru itu tak terkira. Lalu saya jadi semangat untuk naikin skala, doakan bisa 10.000 ya Coach, ucap saya.

Tapi… Coach Fahmi malah menantang saya untuk bisa memberdayakan 100.000 Muslimah Antara bahagia didoain guru, dan degdegan dengan kapasitasnya

Cuma satu doa saya, Ya Allah mampukan kami untuk layak mendampingi 100.000 MuslimahPreneur

Gak mungkin kalau 2 tangan aku bisa ngurus orang sebanyak itu sendirian. Maka sadar diri, mengukur kemampuan proses adalah bagian dari cara kita realistis menggapai tujuan.

Mak pengen Olshopnya sebesar apa?

Sudah realistis belum?

Ngurus anak, rumah, keluarga, olshop. Kebagian berapa jam untuk ngurus jualan, tenaga sisa berapa, pikiran masih sanggup waras kelola semua dan pengen hasilnya setinggi gunung?

Hayu..realistis

Bikin perencanaan, goalnya apa, bagaimana cara mewujudkannya. Inget ya realistis, bukan sekedar optimis.

Karena aku tau gak akan sanggup ngurus 5 bisnis yang sedang Allah amanahi sekarang (RAZHA, SBO, SAO, YUUKA & MH Management) maka akupun rekrut karyawan. Foto ini suasana kantor sebelum C19 merebak dahsyat kaya sekarang, saat ini kosong melompong pada WFH.

Doain ya, akhir bulan ini launching buku baru bertema “Cara Rekrut & Kelola Karyawan Online Shop”. Biar makin banyak Olshop tumbuh besar dan buka lapangan kerja. Kasian banyak yg di PHK dan anak baru lulus susah cari kerja.

Bismillah apapun kondisinya, bagaimanapun situasinya, kalau Allah bantu pasti semua beres Yang penting Mak kerjain PR tentuin IKIGAI dan buat perencanaan realistis.

Aku doain bisnis Emak bertumbuh dan bertambah berkah berlimpah, aamiin…

Salam SUKSES Online Shop Indonesia

Muri Handayani

“Keluarga Keurus, Bisnis Jalan Terus”

JUALANNYA SAMA, KENAPA DIA LEBIH LARIS?




Foto bersama sebagian Tim Mak Muri setelah digembleng 2 hari BoothCamp

Siapa yang pernah mengucapkan kalimat seperti di judul, walau hanya dalam hati sekalipun? Kayaknya bakal banyak yang ngaku ya, Mak.

Percayalah, faktor penentu kesuksesan itu bukan hanya terletak pada jenis barang yang dijual, bukan juga pada pilihan strategi marketing yang dilakukan. Tapi… bagaimana cara kita MENYIKAPI FEEDBACK-lah yang menjadi kunci utama.

Yuk pahami “Growth Mindset vs Fixed Mindset“. Aku dapet dari buku Belajar Cara Belajar, halaman 75.

Growth Mindset adalah pola pikir yang menganggap tantangan, rintangan, kritik, dan kesuksesan orang lain bukanlah halangan untuk menjadi sukses. Malah itu semua dianggap sebagai kesempatan, pelajaran, dan motivasi untuk berkembang.

Fixed Mindset adalah pola pikir yang cenderung menghindari tantangan, mudah menyerah ketika berhadapan dengan rintangan, tidak mau berusaha, tidak peduli dengan kritik, dan merasa terancam atas kesuksesan orang lain.

Nah… Emak sudah berada di Growth Mindset atau masih nyangkut di Fixed Mindset nih?

Produk kita dibilang jelek, itu adalah feedback yang harus kita hadapi dengan senyuman. Tanyakan kepada dia, bagian mana yang menurut dia harus diperbaiki. Minta pendapat ke lebih banyak orang, sehingga penilaiannya objektif.

Aku inget banget waktu tahun 2011 launching produk RAZHA, udah gak kehitung berapa kali revisi. Tahun 2020 kehujanan berbagai kritik pedeeesss dari klien YUUKA (jasa kelola media sosial). Feedback yang menusuk-nusuk rasanya kala itu. Tapi karena kami paham harus Growth Mindset, maka diterima dengan lapang dada.

Lalu perbaiki berbagai hal yang memang masih belum memuaskan konsumen. Alhamdulillah sekarang sudah lebih 700 jumlah klien YUUKA yang mempercayakan pengelolaan akun media sosialnya ke Tim Mak Muri.

Bisnis itu ajang kuat-kuatan mental. Kalau gak tahan banting, ya berguguran. Gak sedikit pebisnis yang sampai harus perawatan medis (tahu kan, bahwa penyakit itu banyak disebabkan oleh stres?) bahkan ada juga yang harus ke psikiater. Wiiih ngeri ya jalanin bisnis sampai kayak gitu? Faktanya ya begitu.

Maka solusinya:

1. Miliki Growth Mindset.

2. Perkuat tauhid dan wajib tawakal.

3. Ikut komunitas pebisnis, biar sevibrasi.

4. Seimbang antara bisnis dan keluarga.

5. Jaga kewarasan dengan mendengarkan respon tubuh, jika butuh istirahat badan ataupun pikiran, ya ikuti. Jangan sampe kelelahan berlebih.

6. Miliki tim yang sevisi, biar jalanin bisnis gak sendirian. Sendiri memang lebih cepat, tapi jika bersama karyawan yang menjadi Tim solid, kita bisa lebih kokoh dan mencapai tempat yang jauh.

Karyawanku masih imut-imut, karena memang dari segi kebutuhan kinerja diperlukan Generasi Milenial dan Gen Z yang paham digital marketing. Emak juga bisa kok punya karyawan yang solid, asalkan Emak punya growth mindset ya.

Gak mudah memang bisa terbentuk tim seperti ini. Aku pun belajar dan super sabar merintisnya dari satu karyawan di tahun 2011. Sudah ratusan orang yang kami interview, datang dan pergi puluhan karyawan terdidik, its ok. Aku tetap move on! Itu juga salah satu kunci mempertahankan bisnis, kudu bisa Move On, Mak!

Aku akan ceritain bagaimana pengalamanku merekrut karyawan. Berbagai kesalahan yang pernah aku lakukan hingga strategi biar karyawan loyal. Aku bahas dalam buku berikutnya yang launching akhir bulan Juli 2021. Minta doanya ya, Mak.

Emak akan belajar Cara Rekrut dan Kelola Karyawan Online Shop. Aku doakan, bisnis Emak semakin bertumbuh dan bertambah berkah berlimpah, aamiin…

Salam SUKSES Online Shop Indonesia

Muri Handayani

“Keluarga Keurus, Bisnis Jalan Terus”

7 TAHUN WAKTU YANG SINGKAT JIKA KITA SIA-SIAKAN

Gak berasa, kerutan di wajah mulai tampak.

Rambut putih mulai eksis.

Bagian tubuh kesayangan mulai kendor.

Anak-anak tiba-tiba besar. Padahal kita cuma menunda, “nanti ya, Nak”, “besok ya, Nak”, “tunggu ya, Nak.” Sebab kesibukan ngurus online shop, anak tidak lagi menjadi prioritas utama.

Meninggalkan dunia karier, katanya demi anak. Online shop malah mengacaukan misi tersebut. Tapi tak bisa dipungkiri, ekonomi keluarga harus tetap dikuatkan. Jadi galau kan, mana prioritas. Terutama bagi single parent yang harus memainkan lebih banyak peran.

Adil membagi peran adalah kunci. Tak mudah, beraaat Marimar. Maka memohon pertolongan Allah adalah senjata utama kita. Yang membuat hidup kita susah, mudah, ribet, lancar, ya Allah.

Islam sudah menegaskan, kalau hidup mau mudah, salah satu yang harus kita lakukan adalah IQRO. Bukan cuma koar-koar: Gak bisa, gaptek, bingung.

Ya jelas gak bisa, gaptek, dan bingung, sebab memang gak punya ilmunya. Sama kayak masak ya, Mak. Kalau gak tahu ilmu masak (resep) dan belum ada jam terbang, gak akan jadi tuh rendang. Sekalipun resep (ilmu) sudah ada, tapi gak praktik masak, ya rendang gak akan simsalabim nongol di meja makan.

Secanggih-canggihnya resep, belum tentu percobaan pertama berhasil. Bisa gosong, keras, kurang gurih, atau bahkan keasinan. Mempraktikkannya berulang kali adalah bagian dari ikhtiar membuahkan hasil yang semakin bagus.

Sama halnya dalam bisnis, Mak. IQRO dari berbagai sumber. Kalau mau jadi chef bintang lima, latihannya harus lebih giat dari abang nasi goreng. Kalau mau bisnis sukses, jadi miliarder, ikhtiarnya harus kayak chef profesional. Latihan berulang kali dengan tekun, gigih, konsisten, dan penuh gairah.

Hari ini Emak udah belajar apa untuk meningkatkan perkembangan bisnis?

Bulan ini sudah ada strategi baru apa agar pemasaran lebih baik?

Tahun ini keilmuan bisnis apa yang membuat manajemen perusahaan Emak lebih efisien, produktif, dan profitable?

Stop mengeluh. Terima aja, selama ini bisnis gak bertumbuh sebab keilmuan dan kinerja kita gak bertambah. Pengorbanan kita belum cukup banyak untuk membayar kesuksesan.

Ikutin cara ini:

1. Berhenti kepoin hidup orang lain.

2. Fokus evaluasi diri, apa yang harus diperbaiki.

3. Tambah ilmu baru setiap hari.

4. Cerdas memilah prioritas hidup.

5. Berusaha profesional dalam setiap peran yang Allah amanahi.

6. Rekrut karyawan untuk bantu ngurus bisnis. Bikin kita lebih serius dan gak jadi sampingan lagi.

Kalau Emak belum paham “Cara Rekrut & Kelola Karyawan Online Shop”, doain ya bukunya terbit akhir bulan ini. Insyaa Allah jadi wasilah ilmu untuk Emak gedein bisnis.

Selain 6 poin di atas, cobain deh, Emak tulis 20 hal buruk yang ada dalam diri Emak, yang mau Emak hilangkan. Lalu tulis juga 20 hal yang ingin Emak tingkatkan/tambah dari diri Emak.

Ingat ya, TULIS!

Lalu mulai coret, setiap kali Emak sudah hilangkan hal buruk, dan ceklis ketika hal baik sudah ditambah/ditingkatkan.

Bismillah, ini ikhtiar kita untuk memantaskan diri memperbesar daya tampung kebaikan (uang, kemudahan, kebahagiaan, mendatangkan peluang, networking, dll). Ketika kita memiliki kapasitas diri yang besar, semakin besar juga daya tampung kebaikan kita.

Siap menjadi pribadi yang lebih baik, Mak?

Salam SUKSES Online Shop Indonesia

Muri Handayani

“Keluarga Keurus, Bisnis Jalan Terus”

SOLUSI SAAT MENTAL SEDANG DOWN JALANI BISNIS

“Mak Muri pernah gak sih sedih, down, terpuruk ketika jalanin bisnis?”

Sering.

Sudah gak kehitung berapa kali terucap kata “aku ingin menyerah”. Namun lagi-lagi keluarga adalah penguat diri ini. Walau kadang gak semujarab itu untuk langsung bangkit.

Saat pandemi ini pun pernah menjadi salah satu titik terendah mentalku. Sampai gak mau berjuang sama sekali. Cuma bisa meratapi diri beberapa hari di kamar. Berasa The End of The World. Ngapain harus berjuang lagi? Hidup sudah mau selesai tampaknya.

Alhamdulillah, izin Allah, badai kegalauan sudah bisa terlewati (lagi). Banyak sekali hikmah yang aku dapat.

Ini beberapa hal yang aku lakukan untuk menyembuhkan diri:

1. Berhenti kepo pada kehidupan orang lain, terutama di media sosial. Faktanya, media sosial itu hanya menampakkan sisi manis, iye kan? Jadi berasa seakan hidup kita doang yang paling gak indah.

2. Lihat kehidupan orang di dunia nyata, terutama yang berada di bawah kita. Alhamdulillah aku tinggal di Desa Cihanjuang. Samping rumahku ada kebun sayur dan bunga. Jadi setiap hari aku bisa melihat para petani yang dengan rajinnya menggarap lahan. Ternyata itu bukan tanah mereka. Cuma sistem bagi hasil dengan juragan tanahnya. Mereka tetap tegar merawat dari bibit hingga panen. Kalau dibandingkan masa perawatan dengan hasil yang didapat, jauh banget dengan olshop yang cuma beberapa kali posting mungkin bisa dapet profitnya seperti mereka kerja berbulan-bulan.

3. Nangis sepuasnya. Lepasin aja. Biarkan air mata itu yang mendinginkan hati ini. Suara isak tangis pun jangan ditahan. Luapkan jika itu bisa membuat hati lebih ringan.

4. Pelukan hangat orang terkasih bisa menghasilkan energi positif. Jangan nunggu dipeluk, tapi minta aja secara lantang. Lakukan ini beberapa kali dalam sehari, sambil dielus-elus punggungnya. Makin sering, makin bagus.

5. Baca Al-Qur’an dengan suara lantang, hingga lirih pun tak mengapa. Al-Mulk bisa menentramkan hati. Surat apa pun bolehlah, terserah maunya apa. Kadang, aku buka Al-Qur’annya ngacak, random gitu, Mak. Seakan Allah kasih petunjuk, milihin untuk kita baca yang mana. Tapi saranku, baca yang ada tafsirnya. Sehingga kita juga paham isi pesannya.

6. Sedekah membuat hati penuh syukur. Gak punya uang, barang pun bisa. Tak mesti barang baru, bekas juga boleh, yang penting layak pakai. Cek lemari pakaian Emak, suami, dan anak-anak. Keluarin minimal 1/3 dari isinya. Perabotan dapur, bantal, sprei, kursi, meja, kasur, dll. Aku pernah sampai sedekahin kasur, gantungan baju, karpet. Saking udah gak ada uang untuk disedekahkan. Ya udah ambil yang ada aja. Minta petunjuk sama Allah agar dipertemukan dengan orang yang pas untuk menerima sedekah kita.

7. Keluarin stok dagangan yang numpuk lama. Bikin mumet ya kalau lihat stok gak berkurang. Udah sekian purnama masih aja duduk manis dia di pojokan rak. Toh salah satu tujuan kita bisnis kan untuk kebermanfaatan hidup. Mau ngasih uang atau barang, sama-sama memberi manfaat. Jangan lupa minta petunjuk Allah, kepada siapa stok ini akan diberikan.

8. Lantunkan doa di berbagai waktu mustajab, termasuk setelah kita ngaji dan sedekah. Salah satu doa yang terus-menerus aku ucapkan saat sedih adalah minta diberikan kesabaran, kelapangan dada menerima takdir, ketentraman hati, pandai bersyukur, bahagia, dan keceriaan selalu tertanam dalam diri.

Allah-lah sang pemilik hati ini. Cuma Allah yang bisa membolak-balikkan rasa dalam dada. Bahagia, sedih, ceria, dll.

Mungkin Allah lagi cemburu. Kita terlalu sibuk dengan urusan dunia. Mungkin Allah marah karena kita sombong, ngerasa seakan semua pencapain ini adalah hasil kinerja kita, padahal itu semua karena kebaikan Allah.

Semua yang kita dapat ini, cuma fasilitas sementara. Allah cuma pinjemin. Jangan terlalu erat menggenggamnya. Jangan ragu juga melepaskan jika memang perlu untuk menyelamatkan bisnis kita. Aku pernah jual mobil satu-satunya demi bisa nutupin biaya operasional kantor.

Gak tahu kan, Mak? Makanya jangan lihat manisnya aja. Toh dulu aku gak punya mobil baik-baik saja. Masa udah punya, terus akan sakit kalau gak punya. Nggaklah. Semua akan baik-baik saja, dalam hatiku terucap.

Alhamdulillah sekarang udah banyak taksi online. Jadi memudahkan, praktis, dan lebih murah. Naik angkot pun aku gak masalah. Dalam foto ini cuma pencitraan, aslinya aku gak bisa bawa motor. Jadi, kalau suami lagi gak bisa anter, ya udah tinggal panggil suami orang (sopir taksi online atau sopir angkot)

“Hidup ini indah, cuma kitanya aja yang bikin ribet.” Sunil Taulani – Penulis buku Gue Ogah Ribet

Iya juga ya, bener banget! Bismillah, hayu kita bangkit, Mak. Hidup dibawa simpel aja. Jangan terlalu ribet, gak boleh overthinking.

Ya Allah, jaga hati kami agar selalu dipenuhi rasa syukur, bahagia, dan ceria. Karena Ibu adalah pusat energi utama dalam keluarga. Kalau ibu bahagia, ibu bisa memancarkan kebahagiaan untuk seisi rumah.

Keep strong & happy, Mak! Luv u.

Salam SUKSES Online Shop Indonesia

Muri Handayani

“Keluarga Keurus, Bisnis Jalan Terus”

SIAPA SEBENARNYA ORANG DI BELAKANG MAK MURI?

Bener gak sih ibu rumah tangga bisa sukses bisnis? Gimana ngurusnya tuh antara keluarga dan usaha? Bener gak pakai pengasuh, tanpa pembantu, tapi bisa ngurus keluarga dan jalanin bisnis juga?

Okey, aku akan buka-bukaan nih sekarang. Ambil baiknya aja kalau ternyata cocok, hempaskan yang jeleknya kalau Emak ngerasa gak sesuai.

Aku jarang posting kehidupan pribadi jika itu gak berkaitan dengan bisnis atau motivasi. Aslinya aku bukan tipe orang yang narsis. Bahkan bermedia sosial pun gak terlalu hobi.

Kalau gak posting, cuma mikirin nanti nilai engagement turun. Berat lagi naikinnya. Branding belum mencapai goalnya, harus terus maintenance. Marketing masih harus dibantu, biar selling juga naik.

Yes, media sosial bukan aku banget sebenarnya. Aku pribadi baik-baik saja kalau gak posting beberapa hari. Bahkan pernah uninstall aplikasinya.

Cuma ada dua tujuanku dari penggunaan media sosial:

1. Bisnis

2. Pahala

Kalau postingan gak naikin bisnis dan gak ada nilai pahalanya, ngapain main media sosial? Kepoin kehidupan orang lain, gak aku banget. Takut cuma ngotorin hati.

Jadi, bagi Emak yang ngerasa gak hobi media sosial, ya sabar-sabarin aja. Paksa diri untuk suka demi gedein bisnis dan banyakin pahala. Bisa kok dipaksa. Aku udah jalanin ini lebih dari 10 tahun dengan konsisten. Alhamdulillah hasilnya mantul.

Nah, untuk membantu agar menjaga konsistensi kelola media sosial, yang mana ini adalah “Kantor Emak Olshop”, maka kita butuh ada yang back up.

Pertama, REKRUT KARYAWAN. Tanpa jeda, pengelolaan media sosial terus berjalan selama jam kerja. Akun personal (asli maupun kloningan), fanpage, grup, dan inbox dibantu penggarapannya oleh karyawan. Jangan bayangin aku semua yang ngerjain itu. Bisa-bisa aku jadi kurus.

Kedua MINTA SUAMI RESIGN. Alhamdulillah Allah lembutkan suami untuk melepaskan kariernya di bidang yang sangat disuka, yaitu fotografi. Saat bergabung ke RAZHA, tugas suami jadi fotografer. Alhamdulillah masih nyambung dengan passionnya.

Selain itu, suami juga jadi sopir, tukang angkut, kebersihan, seksi sibuklah. Maklum, dulu karyawan baru dikit. Jadi sisa kerjaan dipegang berdua oleh aku dan suami. Namun memang, tidak dipublikasikan. Jadi seakan yang ngurus bisnis ini Mak Muri seorang.

Tahun 2013 mulai berdiri SBO (Sekolah Bisnis Online). Tahukah Emak, gak semua kelas yang ngajar itu aku.

Jadi, dulu tuh SBO kelasnya di grup Facebook ya, dan jamnya malam. Ada masanya anakku rewel. Jadi yang ngajar ya suamiku. Pakai akun Facebook aku. Ya kayak di foto ini. Suami rela dipanggil Emak saat ngajar online. Demi kenyamanan para peserta yang maunya diajarin sama perempuan juga.

Suami juga yang nyusun kurikulum di SBO, yang bikin slide materi, juga yang upload ke grup Facebook kala itu.

Couplepreneur bisa berjalan, jika bisa satu visi. Berbagai ‘pengorbanan’ dilakukan bersama. Turunin ego, yang penting visi tercapai. Toh hasilnya dinikmati berdua, kan? Suami yang paling tegas. Gak boleh rekrut pengasuh. Anak harus sama ayah bundanya.

Lalu bagaimana dengan bisnis yang ingin dibesarkan? Tentu harus lebih banyak waktu, tenaga dan pikiran untuk ngurusnya. Ya tambah karyawannya. Delegasikan lebih banyak pekerjaan. Sehingga kita sebagai pemilik bisnis, tetap punya banyak waktu untuk keluarga.

Kalau dibandingkan dengan pebisnis lain, jumlah omzet sama, tapi karyawan kami jauh lebih banyak jumlahnya. Kata suami gak apa-apa, yang penting kami punya banyak waktu untuk keluarga. Sehingga prinsip “Keluarga Keurus, Bisnis Jalan Terus” bisa terwujud. Gitu Mak, kata suamiku.

Sudah kejawab rasa penasarannya?

Jadi bisa kok Ibu Rumah Tangga punya bisnis. Asalkan harus punya tim yang support bisnisnya. Gak bisa wonderwoman, harus wonderteam.

Siap rekrut karyawan?

Doain ya. Akhir bulan ini launching buku baru tentang “Cara Rekrut & Kelola Karyawan Olshop”. In syaa Allah jadi ilmu yang bermanfaat untuk banyak orang. Supaya makin banyak pengusaha sukses namun keluarga tetap dapat perhatian penuh.

Salam SUKSES Online Shop Indonesia

Muri Handayani

“Keluarga Keurus, Bisnis Jalan Terus”