Aku Anak Supir Angkot

Muri Handayani Sekolah Bisnis Online Penulis Buku Emak Jago Jualan Pebisnis Motivator Pembicara Pemateri Seminar Workshop Perempuan Kisah Sukses Pebisnis Online WanitaSeneng banget rasanya saat bapak pulang narik (kerja sebagai supir angkot). Karena pasti bapak bawa uang banyak. Kami an
ak-anaknya bertugas merapihkan lembaran uang yang didominasi dengan pecahan Rp.100 berwarna merah. Diselingi dengan tawa ketika saya dan kakak saling ejek saat melihat lembaran hijau bergambar orang utan, uang pecahan Rp.500. Eh lihat ada foto kamu disini hihihiiii…

Saya anak ke 2 dari 5 bersaudara. Ya bapak berprofesi sebagai supir angkot. Ibu pernah bekerja sebagai penjahit, tukang kredit, penjual kue hingga akhirnya memiliki warung nasi di jalan Pasar Jumat, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Disinilah saya lahir dan dibesarkan. Asli Betawi, namun 50% darah Jogja. Masa-masa sekolah sempat merasakan membantu ibu jualan nasi rames. Buka tutup warung dengan papan-papan panjang yang disusun. Jangan bayangkan ada rolling door pada masa itu.

Betawi… entah kenapa, prinsip yang dipegang warga betawi (saya melihat dari sosok bapak) hidup untuk hari ini. Besok ya gimana besok. Sebagai pribumi, konon katanya nenek moyang kami punya tanah luaaasss banget. Lebak Bulus, Bintaro, Ciputat, Parung dll.

Tapi apa yang terjadi sekarang? Tanah hampir tidak bersisa, bahkan sebagian anak cucu keturunannya hidup ngontrak sana sini. Usut punya usut, anak perempuan pada masanya tidak diprioritaskan masalah pendidikan. Toh nanti perempuan ke dapur.

Alhasil, sebagian dari anak cucu hidup dalam kondisi tidak baik saat ini. Uang habis untuk makan. Mau nikah, jual tanah. Mau makan, jual tanah. Mau sunatan, jual tanah. Mau haji, jual tanah. Mau apa aja, jual tanah.

Jual… jual… jual… habis lah asetnya. Masing-masing orang memikirkan “hidup untuk hari ini”, apa yang terjadi dengan anak cucu? Warisan harta tidak, warisan ilmupun tidak.

Walaupun bapak supir angkot, alhamdulillah bapak bertekad untuk memperbaiki generasinya. Bapak mau semua anaknya jadi sarjana, jangan seperti beliau yang hanya tamatan SMA. Alhamdulillah anaknya 4 jadi sarjana + 1 sedang kuliah saat ini. Izin Allah.

Ini bukan soal sarjananya, tetapi bagaimana membentuk POLA PIKIR yang lebih baik. Tidak hanya fokus untuk hidup hari ini, tetapi memiliki perencanaan untuk menabung demi masa depan. Tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi bagaimana hidupnya bisa bermanfaat untuk ummat.

Salah besar ketika yang perlu berilmu hanya laki-laki!

Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ibu juga harus memiliki pola pikir yang baik, berwawasan luas, jejaring luas, up to date. Ibu yang akan membantu anak merangkai mimpinya. Ya semua diawali dari mimpi, bukan mimpi yang kerdil, tetapi mimpi yang sangaaaaat tinggi, karena sang ibu yakin Allah bisa mewujudkannya. Yes… Allah yang akan mewujudkannya. Apa sih yang Allah gak bisa?

Ayo ibu tambah terus ilmunya, perluas wawasannya, berjejaring tanpa meninggalkan kewajiban di rumah. Biarlah kita tidak bisa menjadi jendral di luar sana, tetapi kita bisa membesarkan seorang jendral di rumah.

Belajar dan berkarya dari rumah sungguh indah dan penuh berkah insyaAllah… Bukan berarti dirumah tidak boleh berpakaian rapi dan cantik. Ada karyanya Mak Siti Rosi bertajuk SYLLA di Sylla Hijab Store cocok untuk digunakan sehari-hari dirumah atau saat pergi. Aw… aku sepertinya orang pertama yang menggunakan jilbab SYLLA ini, sebelum launching aku sudah punya hihiiii.. Gamis hitam SYLLA juga jadi kesayang  Love it!

Salam SUKSES OnlineShop Indonesia
Muri Handayani
SBO (Sekolah Bisnis Online)
“Gaptek Hilang, Rejeki Datang”

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *