Perencanaan Bisnis Gagal Karena Hal Ini -Part 2-

Muri Handayani Sekolah Bisnis Online Penulis Buku Emak Jago Jualan Pebisnis Motivator Pembicara Pemateri Seminar Workshop Perempuan Wanita

Judulnya beda dengan part 1 hihihiii.. Suka-suka saya aja lah ya  Kan yang penting ilmunya tersampaikan. (Penulis macam apa ini wakakakaaa…)

Saya mau curhat nih sebenernya… Boleh donk gantian saya yang curhat  Saya sedang banyak evaluasi diri. Khususnya soal kepemimpinan. Entah kenapa “greget”nya mulai berkurang ketika saya memikirkan RAZHA. Biasanya hati saya berbunga-bunga dikala sedang mendiskusikan RAZHA.

Setelah kemarin coaching ke Pak Fauzi, ketemulah akar permasalahannya. Yes.. akhir-akhir ini saya kurang mendampingi proses eksekusi harian RAZHA. Saya membuat perencanaan kerja, lalu saya sampaikan ke Tim RAZHA. Tetapi hanya sebatas itu, sudah lama saya tidak melakukan kontrol harian.

Kalo ditanya kenapa, pasti jawabannya seribu alasan. Rempong urusan anak, sibuk nulis buku ke 4, super repot karena pindahan rumah dll.

Ketika kita memilih bisnis, secara sadar kita tahu konsekuensinya adalah MAKIN CAPEK + REPOT. Jadi… rempong ini itu gak boleh jadi alesan kita gak ngurusin bisnis.

Okey sekarang kembali ke permasalahan “Bagaimana agar perencanaan dapat berjalan sesuai keinginan?”.

1. Lakukan briefing harian. Mak boleh pilih Pagi atau Sore. Misalnya Mak pilih pagi. Kita evaluasi pekerjaan kemarin, ada kendala apa dan pencapaian apa yang didapat kemarin. Kemudian kita juga bahas tugas-tugas dan prioritas kerja hari ini.

2. Uraikan dan jelaskan tugas hari ini secara terperinci, spesifik dan lengkap tentang apa saja instruksi kerjanya. Ingat pembahasan di Part 1 kemarin. Setelah Mak jabarkan tugasnya, minta mereka kembali menjelaskan apa yang mereka tangkap dari penjelasan Mak. Ini untuk memastikan bahwa dia mengerti apa yang Mak perintahkan.

3. Uraikan ukuran keberhasilan/standar kerja. Kata Mak Lya Herlyanti “Sesuatu yang tidak bisa diukur itu tidak bisa diatur”. Oleh karena itu semua pekerjaan harus bisa dinilai dan diukur secara objektif. Supaya bisa dievaluasi bersama-sama tingkat keberhasilannya.

Contoh:
– Penambahan follower Instagram 200 follower per hari.
– Posting di Instagram 20 foto perhari. 5 foto produk, 5 testimoni, 5 quotes, 5 promo/branding.
– Setiap postingan harus menggunakan 20 hastag yang sudah ditentukan. Setiap hastag harus muncul di top post.

Jika tidak mencapai target yang diinginkan, maka kita evaluasi apa penyebabnya. Apabila kita hanya sekedar mengelola sosial media tanpa tolak ukur keberhasilan, ya santai banget nanti kerjanya. Tidak bergairah gitu.. Gak ada goal yang kudu dicapai.

Sama seperti kita mendampingi anak-anak. Anak terkadang males belajar karena belum tahu apa tujuan belajar. Kenapa harus belajar? Kenapa harus pinter? Kenapa harus bisa?
Maka wajib kita mengarahkan anak-anak untuk memiliki cita-cita setinggi langit. Sehingga mereka akan sumringah dalam proses belajarnya. Lelah hari ini adalah bayaran untuk mencapai impian di hari esok. Hari esok pasti cerah karena ada Allah yang sayang dengan kita. Secerah Naziya karena dapet Boneka Aisya dari Tante Yeti Sumiati owner Ciloets Handmade Bandung 

Semoga Allah selalu mudahkan segala urusan Mak.. aamiin..

Salam SUKSES OnlineShop Indonesia
Muri Handayani
SBO (Sekolah Bisnis Online)
“Gaptek Hilang, Rejeki Datang”

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *